HEADLINE NEWS

TOPIK POPULER

Tragisnya Nasib Pedagang Kaki Lima, Korban Tebang Pilih Satpol PP Pemalang


Pedagang kaki lima
Pemalang, - Masih teringat dengan jelas berita tentang tingkah polah Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Pemalang yang sangat terlihat "Pilih Kasih" atau Tebang Pilih para pedagang kaki lima (PKL.red) yang ada di Kabupaten Pemalang. 

Bagaimana tidak, Dari Ribuan PKL yang ada di seluruh Kabupaten Pemalang, Hanya 2 pedagang saja yang di "Obrak Abrik" dagangannya. Terbukti dengan jelas ketika Nur Laela, ibu pedagang jajanan dan kopi yang ada di seberang Toserba YOGYA atau 5 meter sebelah barat Bengkel Sri Jaya Motor dan Isah, seorang pedagang jajanan Empek Empek ini, di "Kartu Merah" dan diancam untuk tidak berdagang dilokasinya di Jalan Jenderal Sudirman ini (Alun Alun Pemalang ke arah timur 10 meter sebelum pertigaan Jalan Pemuda.red). 

Dari hasil pantauan kami disepanjang jalan yang ada di Kabupaten Pemalang, tak terhitung jumlah banyaknya pedagang kaki lima. Seperti terlihat dari Perempatan Pasar Beji Kecamatan Taman menuju ke arah barat hingga Alun Alun Pemalang, pertigaan Jalan Pemuda nenuju ke selatan hingga pertigaan Kali Banteng, pertigaan Jalan Ahmad Yani ke selatan hingga Pasar Paduraksa. Sangatlah tidak terhitung jumlah para pedagang kaki lima atau pemilik usaha yang sengaja menggelar dagangannya di trotoar atau bahu jalan. Baik berupa meja, keranjang, meja, hingga memakai kendaraan bermotor. 

Pedagang Buah di Depan Toko Roti Gita Mas, Pedagang di depan toserba Basa, parkiran depan Bank Mandiri, hingga pemilik toko besi yang ada disepanjang Jalan Jenderal Sudirman. Pedagang jajanan di depan Sekolah Menengah Pertama Veteran dan beberapa sekolah, pedagang buah di Lapangan Pegatungan (Lapangan Mulyoharjo.red), pedagang di depan Masjid Al Hidayah di Jalan Pemuda. Hanya Nur Laela dan Isah saja yang selalu diobrak abrik. 

Sementara itu, ketika kami berulang kali mencoba mengkonfirmasi kepada personel Satpol PP di rumahnya disekitar perempatan Desa Kaligelang, Kecamatan Taman, atau diseberang sebelah utara SMK Satya Praja Taman ini. Justru terkesan tidak ada waktu. 

Kenyataan tersebut berbanding terbalik ketika kami menghubungi Misbahudin, salah satu "Komandan" Satpol PP, mengatakan, agar kami muat saja berita tersebut.

"Muat saja, biar ditangani para pakar.", ungkapnya. 

Sementara itu, menurut Toni (38), CEO Toko TipTop yang juga pemilik tanah yang digunakan untuk tempat Jualan Nur Laela, mengatakan, jika yang dipakai Ela adalah Tanah miliknya.

"Ela pakai meja untuk jualan itu di atas tanah milik saya, nyatanya dulu ketika ada operasi Gabungan, Ela tidak diobrak abrik Satpol PP. Dan jika hanya Ela saja yang diusik, kenapa yang lain diCUEKin? Toh ya Gerobak milik Ela ada di bahu jalan dan ada dipertengahan antara Tiang Listrik dan Trotoar.", imbuhnya. 

PATUH PERDA, TABRAK PANCASILA 

Ya. Itulah yang dilakukan oleh SATPOL PP Kabupaten Pemalang. Ketika Spanduk Caleg, Tuna Wisma, Serta Orang dengan gangguan kejiwaan kian bebas Melenggang terbang diangkasa. Namun didiamkan saja tanpa penertiban. Tetapi Ela dan Isah yang kerap kali dibabad oleh Satpol PP.

Tingkah laku Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Pemalang ini, sangat jelas tidak sesuai dengan yang tertulis dalam Pancasila. Bagaimana tidak. Ketika Ela dan Isah diobrak abrik, justru PKL yang lain bebas melenggang. Dengan alasan menegakkan Perda, tebang pilih pun dilakukan tanpa ada prikemanusiaan seperti yang tertulis di Pancasila. (Dentang)

Previous
« Prev Post
Show comments

Contact Form

Name

Email *

Message *