HEADLINE NEWS

TOPIK POPULER

""Gempa Likuifaksi Sudah Tercatat Dalam Al-Quran""

By On Friday, October 12, 2018


Kerinci, – Fenomena alam yang terjadi di Sulteng tepatnya di kabupaten Sigi membuat mata tercengang, kekuasaan tuhan yang begitu mengerikan telah dipertontonkan kepada umatnya.

Lokasi Gempa Likuifaksi Sulawesi
Gempa Likuifaksi atau berubahnya tanah menjadi seperti cair sehingga menenggelamkan benda-benda di atasnya.

Menurut pantauan citra satelit, lebih dari 200 hektar tanah di Sigi, Palu telah menenggelamkan apa pun di atasnya.

Fenomena menakutkan ini menarik karena inilah ancaman baru yang sulit diantisipasi.Gempa Likuifaksi ini baru pertama kali terjadi di indonesia dan mungkin didunia.

Kalau gempa biasa tang selalu terjadi, orang paham harus bagaimana, antara lain menghindar berada dalam bangunan.

Begitu pun tsunami, tak ada cara lain kecuali mengungsi ke tempat yang lebih tinggi.
Namun, bagaimana dengan ancaman likuifaksi? Sangat sulit menghindarinya, terlebih lagi mendeteksinya.

Yang lebih menakutkan lagi, jenis ancaman bencana ini tidak memberikan bekas keberadaan korban.Semua yang ada diatasnya lenyap dalam sekejap ditelan bumi.

Kalau korban tsunami mungkin bisa dicari, dan begitu pun dengan korban gempa yang tertimbun reruntuhan.

Tapi likuifaksi, korban tertelan begitu saja ke dalam bumi berikut dengan benda-benda yang bersamanya seperti rumah, mobil, dan lainnya.
Al Quran dan Hadits menyebut bencana Likuifaksi.
Al Quran dan Hadits menyebut likuifaksi, wallahu a’lam, dengan sebutan _Al-Khasf.Jenis bencana ini disebut Allah Ta’ala sebagai azab.

Yaitu, azab yang pernah ditimpakan terhadap Qarun, salah seorang kroni Fir’aun  yang sangat begitu ingkarnya kepada Allah SWT.
Allah mengisahkan peristiwa itu dalam Surah Al-Qashshash ayat 81.
فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الْأَرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ
“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.”

Jadi, fenomena sejenis likuifaksi ini pernah terjadi dalam sejarah umat manusia pada masa kehidupan para Nabi.
Dan Allah., menyebut itu sebagai azab untuk seorang bernama Qarun. Orang kaya sombong ini Allah tenggelamkan dalam tanah beserta seluruh kekayaan yang ia miliki.

Ummu Salamah pernah bertanya kepada Nabi SAW., “Apakah bumi akan ditenggelamkan sementara di dalamnya ada orang-orang shalih?” Rasulullah SAW. menjawab, “Jika penduduknya sudah banyak melakukan kefasikan dan kekejian .”  (HR. At-Thabrani).

Semoga Allah mengampuni kesalahan dan dosa kita serta menjaga dan menyelamatkan kita dari segala macam bencana tersebut. 

Sumber: perbagai sumber

Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila  1 Juni 1945 - 1 Juni 2018

By On Thursday, May 31, 2018

Pada tanggal 1 Juni 1945 merupakan hari pertama Soekarno membacakan sebuah naskah pidato tanpa judul dihadapan sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan). Dalam pidato inilah konsep dan rumusan awal tetang lahirnya Pancasila mulai dikemukakan oleh Soekarno sebagai dasar negara indonesia. Pertama sidang ini dibuka pada 29 Mei 1945 di gedung Chuo Sangi In (sekarang Gedung Pancasila) di Jakarta. 


Selanjutnya, dalam sidang dibentuk panitia kecil yang beranggotakan sembilan orang tokoh untuk merumuskan dan menyusun Undang-Undang Dasar dan Pancasila sebagai pedoman bangsa Indonesia. Sembilan tokoh itu yaitu :
  1. Ir. Soekarno
  2. Mohammad Hatta
  3. Mr. AA Maramis
  4. Abikoesno Tjokrosoejoso
  5. Abdul Kahar Muzakir
  6. Agus Salim
  7. Achmad Soebardjo
  8. Wahid Hasjim
  9. Mohammad Yamin
Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya rumusan Pancasila berhasil disahkan sebagai dasar negara Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh BPUPKI dan dicantumkan dalam mukaddimah Undang-Undang Dasar 1945.

Adapun Pancasila dan kelima silanya merupakan kesatuan yang bulat dan utuh, sehingga pemahaman dan pengalamannya harus mencakup semua nilai yang terkandung di dalamnya.
  1. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa,mengandung nilai sprituil yang memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua pemeluk agama dan kepercayaan terhadap Tuhan YME sehingga atheis tidak berhak hidup di bumi Indonesia.
  2. Sila Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab,mengandung nilai satu derajat, sama hak dan kewajiban, serta bertoleransi dan saling mencintai.
  3. Sila Persatuan Indonesia, mengandung nilai kebersamaan, bersatu dalam memerangi penjajah dan bersatu dalam mengembangkan negara Indonesia.
  4. Sila Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaandalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengandung nilai kedaulatan berada di tangan rakyat atau demokrasi yang dijelmakan oleh persatuan nasional yang rill dan wajar.
  5. Sila Keadiilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, mengandung sikap adil, menghormati hak orang lain dan bersikap gotong royong yang menjadi kemakmuran masyarakat secara menyeluruh dan merata. 





Miris... Pejabat Sering Menuding (Fakta) Sebagai Berita Hoax

By On Friday, February 16, 2018



Oleh YURNALDI
Wartawan Utama, Penulis Buku Jurnalisme Kompas (2013)

Hoax kata orang, hoax pula kata wa’ang. Ini ungkapan yang mungkin pas sebagai sebuah catatan pada Hari Pers Nasional 2017. Bentuk dari kelatahan menilai sebuah berita, yang membuat wartawan tersudut. Yang menilai hoax tentu kalangan pejabat yang merasa dirugikan karena pencitraan dirinya yang telah dibangun seelok mungkin menjadi rusak, akibat berita yang membuat dadanya sesak.

Contoh kasus, berita mengejutkan dari Padang Pariaman. Berita derita janda miskin tujuh beranak tidur di tenda. Belakangan media massa di Sumatera Barat melaporkan kondisi Asnimar (36), di Korong Duku Banyak, Nagari Balah Aie, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Keseharian Asnimar memulung dibantu tiga anaknya yang putus sekolah. Jangankan biaya untuk sekolah, untuk kebutuhan makan saja susah dia dapatkan, sehingga anak-anaknya hanya makan nasi putih dengan garam saja.

Ketika pejabat sejumlah daerah sibuk berpesta pora dengan perolehan piala Wahana Tata Nugraha (WTN), pariwara yang penuh puja-puji prestasi, masih ada satu-dua wartawan yang naluri jurnalistiknya boleh dikatakan luar biasa. Luar biasa, karena ketika kecenderungan pemberitaan lebih banyak kategori berita “halo-halo” atau “berita air liur” yang informasinya dari seorang pejabat tanpa ada penggalian informasi lebih dalam, konfirmasi, cek dan ricek dari apa yang dikatakan pejabat tersebut, tiba-tiba ada berita yang membuat pembaca terharu, bersimpati dan akhirnya menimbulkan rasa empati pembaca.

Bagi pejabat, berita seperti itu bukan membuatnya sadar diri dan introspeksi diri akan kelalaian dari tanggung jawabnya, melainkan buru-buru membantah dan menilai berita itu bohong atau hoax. Sikap seperti ini tentu saja aneh. Seharusnya, sebelum merespon sebuah pemberitaan secara gegabah, semestinya para pejabat turun langsung mencek ke lapangan. Dan jika berita itu benar, tak ada ruginya menyampaikan terimakasih kepada sang wartawan yang menulis berita atau kepada medianya dan minta maaf atas kelalaian memberikan perhatian kepada keluarga miskin yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Dan kalau berita itu benar, langsung ambil tidakan cepat sembari melakukan koordinasi dengan berbagai pihak; bagaimana mempersamakan program lintas dinas/instansi untuk membantu janda miskin yang sudah seharusnya mendapat bantuan sedari dulu.
Berita Harus Dicari
Dari hasil jajak pendapat Kompas, setidaknya delapan dari 10 responden (84 persen) masih menjadikan media massa yang memproduksi karya jurnalistik sebagai sumber informasi yang paling sering digunakan. Hanya sekitar 15 persen yang memilih media sosial.

Dalam soal kepercayaan, koran cetak menonjol di antara media lain. Hanya 6,4 persen responden yang menjadikan media cetak ini sebagai sumber informasi yang paling sering dipakai, tetapi terkait kepercayaan akan kebenaran berita yang disajikan angkanya bertambah dua kali lipat lebih (14,2 persen). Sebaliknya, media sosial, termasuk grup percakapan seperti Whatsapp, justru tertinggi penyusutannya, dari 15 persen menjadi 8,9 persen (baca Kompas edisi Senin 6 Februari 2017, halaman 5).

Ketika tingkat kepercayaan masyarakat kepada media massa masih tinggi, seharusnya ini menjadi tantangan dan sekaligus peluang untuk menyajikan informasi yang benar-benar menjadi kebutuhan pembaca. Berita yang menjadi informasi yang menyenangkan bagi suatu pihak, boleh-boleh saja ada tapi sejauh pengamatan saya, sangat minim konfirmasi dan menguji data dan faktanya dengan suatu hasil penelitian, misalnya.
Pada saat pejabat mengungkapkan, misal, bahwa kemiskinan di daerahnya berhasil dientaskan, seharusnya sang pejabat diburu dengan berbagai pertanyaan. Seperti apa gambaran kemiskinan yang menurut dia berhasil itu, apa kriterianya, dan mana contoh nyatanya. Mana warga yang sebelumnya masuk kategori miskin dan sekarang sudah tidak masuk kategori miskin itu, siapa orangnya, di mana tinggalnya dan banyak hal lain yang harus dipertanyakan.

Sebagai wartawan yang profesional, informasi sepihak dari narasumber tentu belum patut diturunkan sebelum diperoleh data pembanding dari sumber lain, semisal ada penelitian terbaru soal kemiskinan oleh dosen dan peneliti di perguruan tinggi atau lembaga kajian. Pandangan dan penilaian para ahli juga patut dimintai atas pernyataan dan penilaian seorang pejabat. Saya yakin, besoknya akan turun laporan/berita yang menarik, mendalam dan mungkin saja menginspirasi.

Lalu yang menjadi pertanyaan, masih banyakkah wartawan dewasa ini yang mau bekerja keras untuk kemudian menyajikan berita yang mungkin ingin diketahui pembacanya? Bagaimana kondisi gizi buruk di Padang Pariaman, kalau berita itu dipicu dari kondisi anak Asnimar, janda yang menjadi trending topic di Sumbar seminggu terakhir, yang mengalami gizi buruk? Kalau kasus gizi buruk ini dibongkar dan didalami wartawan, informasinya dikejar ke puskesmas pembantu dan puskesmas, dan dari rumah ke rumah, maka bisa jadi berita lokal ini menjadi heboh nasional, sebagaimana yang pernah saya ungkap tahun 1998 lalu. Kasus gizi buruk di Sumatera Barat, ketika itu, membuat heboh nasional sehingga daerah lain juga membongkar kasus gizi buruk yang selama ini “disembunyikan”, tidak untuk diberitakan.

Apalagi di era keterbukaan informasi publik, setelah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik diberlakukan, semua warga punya hak untuk tahu dan memperoleh informasi dari badan publik. Tidak ada lagi informasi yang harus ditutup-tutupi, kecuali sebagaimana yang diatur pasal 17 UU Nomor 14 Tahun 2008. Jika informasi ditutupi para pejabat, sang pejabat bisa disengketakan dan “dimejahijaukan” di Komisi Informasi Provinsi Sumatera Barat.
Harapan Terhadap Pers
Walaupun informasi dan fakta yang diperoleh wartawan di lapangan sebagai sebuah kebenaran, namun dalam etika jurnalistik tidak sertamerta hal itu bisa diberitakan langsung. Berita yang diturunkan harus lengkap dengan konfirmasi dengan harapan informasinya menjadi jernih, tidak menimbulkan persoalan baru yang ujung-ujungnya wartawan dinilai tidak bekerja secara profesional.

Sejak satu warsa belakangan ada kecenderungan wartawan memberitakan dulu informasi yang didapat, konfirmasi (jadi berita) kemudian. Hajar dulu, konfirmasi berita lain. Itu pola yang umum banyak terjadi sekarang. Tatkala opini di mata pembaca sudah terbentuk, baru besoknya muncul berita yang menjelaskan duduk soal dari informasi yang sudah diberitakan itu.

Jika sebuah berita dinilai merugikan, mau tak mau pejabat memberikan hak jawab setelah itu. Cara seperti ini tentu membuat hubungan kemitraan wartawan dengan pejabat menjadi tidak elok. Kadang, bukan tidak mungkin ada maksud tertentu dari wartawan untuk menurunkan berita tanpa konfirmasi. Akan tetapi, apapun apalasannya, sesuai kode etik jurnalistik, setiap berita yang diturunkan sudah harus ada konfirmasinya sekaligus. Tugas redakturlah untuk mengingatkan wartawan, agar beritanya dilengkapi dulu dengan konfirmasi agar laik berita.

Jika kita mencermati hasil “Jajak Pendapat Kompas”, 6 Februari 2017, harapan utama terhadap pers/media massa nasional di masa depan adalah menjadi rujukan berita yang benar bagi masyarakat (45,65 persen), memperhatikan dan mengangkat masalah/nasib rakyat kecil (20,07 persen), menjaga kedamaian dan tolerasi di tengah keberagaman bangsa (15,15 persen), memberikan solusi atas masalah-masalah bangsa (12,96 persen), mengkritik kinerja pemerintahan (pemerintah, DPR, DPD, dan lain-lain) 5, 11 persen.

Hasil jajak pendapat ini bisa menjadi masukan berharga dan modal dalam mengelola pemberitaan ke depan. Selamat Hari Pers Nasional!

Wah... Giliran LacakNews Menggemparkan Pentas Andalas Fm

By On Wednesday, February 14, 2018

Zalmianto Terima Trophy Penghargaan
Kerinci, - 14/2/18 Semurup, Kini giliran LacakNews, kembali menggemakan pentas Andalas Fm award 2018. Ketua Umum (owner) LacakNews Zalmianto, S.Kom mengaku dirinya gembira ria sekali, dia memenangi secara sah melalui voting otomatis yang di selenggarakan Andalas Fm melalui Media Sosial Instagram dan Facebook. 

Kali ini dia mampu menciptakan sensasi yang berbeda dengan menggunakan Lacak ketika menaiki pentas untuk jemput trophy dan penghargaan tersebut. 


Trophy Kembar
"Terimakasih banyak saya ucapkan kepada seluruh personil LacakNews yang telah bekerja maksimal hingga kita mendapatkan sebuah karya seni yang tinggi seperti ini, sekali lagi terimakasih saya ucapkan pada teman dan rekan lainnya yang telah setia mendukung LacakNews." Ujar Zalmianto

Selamat buat LacakNews yang telah memenangi hati Masyarakat dan pembaca, sehingga akhirnya dia mendapatkan penghargaan Media Lokal Cetak dan Online dilingkup Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. (Mano)

Miko Adri Jurnalis Jambione Terpilih Lagi

By On Wednesday, February 14, 2018

Miko Adri Jurnalis Jambione Terpilih
Kerinci, - Semurup 14/2/2018, Miko Adri Jurnalis Jambione mengaku bahagia setelah dirinya mampu mengalahkan para jurnalis lainnya yang masuk nominasi pemenang Andalas Award 2018 kategori terfavorit. 

Miko ditemui wartawan ini mengatakan, "terima kasih saya ucapkan pada teman saya yang telah memilih saya sebagai jurnalis terfavorit 2018, tanpa teman teman apalah arti penghargaan ini," ujar Miko Adri Jurnalis Jambione. 

Miko Bersama Pimpred LacakNews
Dia memenangkan dari enam nominasi jurnalis terfavorit. 

Harapannya agar penghargaan ini akan menentukan jurnalis lainnya untuk memberikan informasi terkini aktual dan terpercaya, semuanya dinilai oleh pembaca. 

"Semoga menjadi inspirasi buat teman-teman lainnya didalam menggeluti profesi jurnalis ini." Tutup Miko. (Mano)

Contact Form

Name

Email *

Message *